Semangat Baru Al Miftah

Komparasi fasl hidzul yadain: MENULIS LEMBARAN KEBAIKAN.



Dalam sejarah tercatat bahwa kejayaan Islam pernah teraih melalui budaya baca-tulis. Bahkan Rasulullah mendapatkan wahyu pertama yang berbias perintah untuk membaca (iqra’) dan menulis (‘allama bi al-qalam)
dalam surat Al-‘Alaq
اقرأ باسم ربك الذي خلق Ù¡ خلق الانسان من علق Ù¢  اقرأ Ùˆ ربك الاكرم Ù£ الذي علّ بالقلم Ù¤
Ù…  
Artinya :
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang maha mulia (3) Dia mengajarkan manusia dengan pena (qolam) (4)”(Q.S Al-Alaq:1-3) [1]
Surat al-‘Alaq yang disepakati oleh para ulama sebagai wahyu pertama yang diturunkan kepada Muhammad, memiliki tiga cakupan yang sangat prinsipil:pertama; menjelaskan hikmah penciptaan manusia, keutamaan perintah membaca (iqra’) dan menulis (‘allama bi al-qalam) sebagai keutamaan manusia dari makhluk-Nya yang lain. Kedua; menjelaskan tentang ketamakan manusia terhadap duniawi dan akhirnya hancur karena kecintaannya terhadap dunia,  ketiga;mengkisahkan tentang Abu Jahal yang membangkang terhadap ajaran Nabi.
Dalam wahyu pertama itu, Tuhan menyebutkan kata iqra’ (baca) pada awal surat, kemudian dikaitkan dengan kalimat selanjutnya bismi rabbika al-ladzî khalaq(dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan). Kemudian Tuhan menyandingkan kata iqra’ (baca) dengan kata ‘allama bi al-qalam (yang mengajari dengan qalam [menulis]). Dalam pandangan Wahbah, sandingan ini memiliki kekuatan yang sangat penting bagi manusia, bahwa Tuhan, selain memerintah untuk membaca, juga memerintah untuk menulis. Bahkan Abdullah bin ‘Amru, seorang ulama salaf mengungkapkan “qayyidû al-ilma bi al-kitâbah” (ikatlah ilmu dengan menulisnya).
Membaca dan menulis adalah media untuk mengantarkan manusia menuju perbaikan. Maka, tidak berlebihan jika Qotâdah, seorang ulama salaf menyatakan: “Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah…” (Tafsîr al-Qurthûbî, 2002).[2]
Pernyataan indah dari syeikh qotadah yang menyatakan bahwa menulis adalah nikmat, memberika silogisme sederhana kepada kita bahwa menulis harulah kita jadikan sebagai suatu yang harus kita syukuri. Diantara bentuk syukur kita atas nikmat menulis adalah dengan menggunkan menulis sebagai media untuk mentransformasikan umat dari  era jahiliah menjadi lebih berilmu dan berakhlak dari tak bermoral menjadi bermoral, dan saat tulisan di tasawurkan sebagai media silaturrahmi maka alangkah cepat kiranya kedamaian di bumi allah ini terwujud.
Lalu seandainya nikmat agung ini tidaklah kita syukuri maka termasuklah kita kedalam kufur nikmat, yang menggunakan tulisan untuk menyeret manuisa pada degradasi peradaban berupa tulisan-tulisan yang hanya membuahkan kehancuran.
Dalam bentuknya imam al-gozali menyebut pena sebagai manifestasi dari kedua lisan, maka apa yang tak boleh di ucapkan lisan tak boleh pula kita tulis dengan pena, dan apa yang lisan harus terjaga darinya, harus pula pena terjaga darinya.
Masih di dalam kitab bidayatul hidayah ini, imam al-ghozali menjelaskan ada delapan hal yang mana lisan harus terjaga darinya yaitu; berdusta, menyalahi janji, ghibah, mendebat atau melecehkan, memuji atau mengagungkan diri sendiri dengan maksud sombong, melaknat sesuatu atau mendoakan orang lain agar orang lain dijauhkan dari rahmat allah, mendoakan orang lain supaya binasa, bergurau mengejek yang tidak ada faidahnya.[3]
Sahabat Abu bakar berkata “lidahmu adalah singa, jika kau lepaksan maka ia akan memangsamu, dan jika kau menahannya, dia akan menjagamu”, dan pantaslah dalam muroqi ubudiyah imam nawawi mengutip syair indah dari dzun nun al misri sebagai penutup bahasan ini.
Tidaklah setiap penulis, melainkan akan binasa
Sedang apa yang di tulis kedua tangannya akan tetap ada
Maka jangan kau tulis dengan kedua tanganmu selain sesuatu
yang akan membahagiakanmu Di akhirat saat kau melihatnya[4]
1.                  Fungsi menulis dalam komunikasi
Judy C.Pearson dan Paul E.Nelson mengemukakan bahwa komunikasi ada dua fungsi yaitu untuk kelangsungan hidupnya sendiri seperti keselamatan fisik, meningkatkan kesadaran diri, menampilkan diri kepada orang lain dan mencapai ambisi pribadi, sedangkan yang kedua yaitu untuk kelangsungan hidup masyarakat seperti memperbaiki hubungan sosial dan mengembangkan keberadaan suatu masyarakat.[5] dalam hal ini tulisan sangat memegang peranan penting dalam menjalankan fungsi komunikasi di berbagai aspek kehidupan.
Komunikasi pun dengan berbagai medianya dapat berfungsi sebagai kontrol sosial contohnya seperti koran, majalah dan lainnya, sebagaimana kitab bidayatuh hidayah yang menjadi kontrol sosial, dengan formulasi tasawwufnya imam al ghozali ini. Tulisan pun di beri tempat untuk masyarakat dari berbagai elemnnya untuk memberi saran, dan kritik ataupun mendoktrinkan hal-hal positif dan berkata “tidak” untuk hal hal negatif,
Namun pada perjalannya tulisan telah banyak mengalami disfungsi sebagai kontrol sosial. seperti tulisan dijadikan alat untuk menjatuhkan lawan politik, menghujat orang, memfitnah dan yang lebih parah adalah mereka mendisfungsikan tulisan menganggap hal itu justru bentuk kontrol sosial. Dan akhirnya antara tulisan yang benar-benar sebagai fungsi kommunikasi dan tulisan yang telah mengalami disfungsi bercampur Sehingga sangat sulit membedakannya, dan dampaknya adalah menurunnnya kepercayaan diantara masyarakat , sehingga melahirkan embrio embrio perpecahan. Hal ini di dukung dengan pernyataan De Fleur “Pesan media mengandung atribut rangsangan tertentu yang memiliki interaksi yang berbeda beda dengan karakteristik kepribadian audience”
2.                  Menulis sebagai komunikasi verbal
Komunikasi mempunyai media berinteraksi berupa bahasa verbal untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud kita dengan menggunakan kata-kata(seperangkat simbol) yang merepresentasikan berbagai aspek realitas individu.[6]sedangkan nonverbal kebalikannya yaitu komunikasi di luar kak\ta-kata teucap dan tertulis, dalam penggunaanya rata-rata manusia berkomunikasi verbal dengan porsi 35%, sedangkan 65% adalah nonverbal.
            Tulisan di pandang oleh komunikasi sebagai komunikasi verbal sebab terwakili oleh symbol-simbol huruf yang di tulis, hal ini sesuai dengan penjelasan imam al-ghozali bahwa pena (sebagai media tulisan) adalah termasuk lisan (sebagai media ucapan).
Namun komunikasi verbal ini memiliki banyak keterbatasan, sebab tidak dapat mewakili totalitas sebuah obyek, kata-kata pun lebih bersifat ambigu artinya memiliki banyak makna tergantung pada kemampuan penafsiran seseorang dalam memahaminya, maka satu pesan verbal saja bias memilki banyak penafsiran, selain itu budaya dan kondisi psikis seseorang saat menerima pesan akan sangat mempengaruhi.[7]
Maka sangat penting menjaga kedua tangan ini dari menelurkan sebuah karya tulis dengan memilih kata-kata yang tepat dan sesuai agar dapat meminimalisir kemungkinan salah persepsi dari orang yang membaca.
3.                  Menulis sebagai stimulus
MC Guire (1973) memperkenalkan terori Stimulus Respo (SR) sebagai dasar terciptanya komunikasi, pesan(stimulus) dari pengirim akan menghasilkan reaksi(respon) terhadap penerima, model ini mengandalkan dampak yang kurang lebih langsung sejalan dengan perhatian pengirim atau tercakup dalam pesan.
Ada tiga konstruk dalam teori ini yaitu pengirim, pesan (stimulus) pesan ini dapat berupa verbal ataupun nonverbal, dan yang terakhira adalah penerima yang memberikan (respon), sebuah contoh bila seorang lelaki berkedip pada seorang wanita maka wanita itu tersipu malu, atau saat seorang lelaki mengirimkan puisi cinta untu kepada seorang wanita, maka wanita itu akan senyum senyum sendiri, model komunikasi ini memang seperti kalausialitas hanya saja ada pesan yang menjadi perantaranya, atau padat pula diartikan dengan pemindahan gagasan dan informasi.[8]
Andai kita kaitkan dengan tulisan sebagai stimulusnya, maka tulisan akan memberikan respon terhadap penerimanya, terlebih jika kita berkaca pada zaman ini tulisan dapat sangat mudah dipublikasikan melalui media sosial dan memasuki ranah komunikasi massal, sehingga siapa saja bisa  mengirimkan tulisan dan siapa saja dapat membaca.
Perlu di perhatikan terlepas dari kekurangan media verbal sebagai komunikasi, seperti sebuah kata yang takdapat mewakili totalitas pesan, banyaknya makna ambigu dan sarat perbedaan penafsiran tergantung penerima, namun tetap saja akan memberikan pengaruh terhadap penerima tulisan. Jika kita menulis satu pesan berupa ajakan shodaqoh di facebook maka sama dengan mengajak seribu orang temanmu di facebook untuk bershodaqoh, dan respon yang hadir adalah motivasi untuk bershodaqoh, sedangkan andai kita menulis sebuah ujaran kebencian di Line atau Twitter, semisal, maka berapa banyak respon berupa dorongan untuk membenci, maka dalam perspektif ini, kita harus menjaga apa yang kedua tangan kita tulis sebab bisa saja menghadirkan respon yang negative, maka tulislah lembaran kebaikan.




[1] Q.S Al-Alaq:1-3
[3] Muhammad Nawawi, Maroqi Al-Ubudiyyah, (Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah, 2015),  hlm 167
[4] Muhammad Nawawi, Maroqi Al-Ubudiyyah, (Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah, 2015),  hlm 192
[5] Deddy mulyadi Ilmu kominikasi studi pengantar (Bandung pt.Remaja rosdakarya 2016) hlm 5
[6] ibid hlm 261
[7] Ibid., hlm 276
[8] Deddy mulyadi Ilmu kominikasi studi pengantar (Bandung pt.Remaja rosdakarya 2016) hal 144
Previous
Next Post »