Sungguh, mencintai Allah dan rasul-Nya ialah fardhu ‘ain bagi kita sebagai seorang hamba. Allah lebih berhak untuk kita cintai secara sempurna, karena Dia-lah Maha Pencipta, Maha Pemberi Rizki dan Pemberi Nikmat kepada setiap hamba-Nya.
Allah berfirman...
Cinta adalah kecenderungan tabiat kepada sesuatu, karena adanya kelezatan disampingnya sang pecinta. Bila kecenderungan itu menguat, berarti cintanya meluap-luap karena meluapnya hati. Bila meluapnya itu menguat, berarti cintanya menyala-nyala. Bila menyalanya itu menguat, berarti ia cinta sangat. Bila cinta sangatnya itu menguat, berarti ia mencapai puncaknya cinta.
Karena dengan memuncaknya cinta dapat menghantarkan seseorang kepada puncak cinta yang ada dalam hatinya, yaitu orang yang memasuki hatinya.
Tatkala puncaknya cinta itu menguat, berarti ia menjadikan dirinya sebagai seorang hamba, karena sang pecinta menjadi hamba terhadap orang yang dicintainya. Dengan demikian bila cintanya memuncak menguasai dirinya, cintanya yang meluap-luap mengikat dirinya.
Begitu pula hakikat cinta seorang hamba kepada Tuhannya, cinta tidaklah terjadi kecuali setelah menyelamatkan hatinya dari sesuatu yang mengeruhkan hatinya. Bila cintanya kepada Allah telah menetap pada hati, niscaya akan menyampingkan cinta kepada selain-Nya.
Sungguh, cinta itu sifatnya membakar segala sesuatu yang bukan dicintainya.
Wallahu ‘alamu...
Dikutip dari Kitab Tanwirul Qulub karya Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi al-Ibili dalam Fasal Cinta.
Allah berfirman...
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ
“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
Cinta adalah kecenderungan tabiat kepada sesuatu, karena adanya kelezatan disampingnya sang pecinta. Bila kecenderungan itu menguat, berarti cintanya meluap-luap karena meluapnya hati. Bila meluapnya itu menguat, berarti cintanya menyala-nyala. Bila menyalanya itu menguat, berarti ia cinta sangat. Bila cinta sangatnya itu menguat, berarti ia mencapai puncaknya cinta.
Karena dengan memuncaknya cinta dapat menghantarkan seseorang kepada puncak cinta yang ada dalam hatinya, yaitu orang yang memasuki hatinya.
Tatkala puncaknya cinta itu menguat, berarti ia menjadikan dirinya sebagai seorang hamba, karena sang pecinta menjadi hamba terhadap orang yang dicintainya. Dengan demikian bila cintanya memuncak menguasai dirinya, cintanya yang meluap-luap mengikat dirinya.
Begitu pula hakikat cinta seorang hamba kepada Tuhannya, cinta tidaklah terjadi kecuali setelah menyelamatkan hatinya dari sesuatu yang mengeruhkan hatinya. Bila cintanya kepada Allah telah menetap pada hati, niscaya akan menyampingkan cinta kepada selain-Nya.
Sungguh, cinta itu sifatnya membakar segala sesuatu yang bukan dicintainya.
Wallahu ‘alamu...
Dikutip dari Kitab Tanwirul Qulub karya Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi al-Ibili dalam Fasal Cinta.


ConversionConversion EmoticonEmoticon