Dalam keseharian manusia, mereka pasti tak jauh dari kata nikmat. Karena makan, minum bahkan bernafas itu juga dikatakan nikmat. Tapi dalam realitanya, bnyak sekali dari mereka yang lupa akan nikmat-Nya. Iya nggak?
Nah, maka dari itu bersyukur adalah jalan pintas untuk menetralisir nikmat. Allah telah menjanjikan bagi orang-orang yang bersyukur dalam firman-Nya.
Terus bagaimana dengan orang-orang yang nggak mau bersyukur? Yaa.. Mau gimana lagi, Allah pun menjanjikan dalam al-Qur’an.
Dalam hal syukur adakalanya bersyukur dengan lisan, seperti halnya melafadzkan ‘alhamdulillah’. Ada pula bersyukur dengan perbuatan, misalnya bershodaqoh. Dan yang terakhir adalah syukur dengan hati yaitu dengan mengingat Dzat yang memberi nikmat.
Dan satu lagi, lawan dari syukur adalah rakus, teman!! Salah satu sifat yang dimiliki musuh Allah yaitu syaitan. Rakus adalah salah satu sifat asli manusia. Kalo kita angan-angan, hasrat manusia untuk memiliki itu tinggi. Ingin ini ingin itu, alah mbuh.
Rakus boleh tapi harus di imbangi dengan syukur. Karena kalau seorang insan kalo hanya rakus saja, maka ya bisa –bisa dia terjatuh dalam lubang kenistaan. Dlam sebuah syair karangan as-Syaikh Ahmad ad-Dardiriy dikatakan,
Ketahuilah kawan!! Allah itu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Wallahu a'lamu...
Identitas Penulis
Shohibul Amin – Lahir di Purbalingga, 20 September 1999. Siswa di Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri. Penulis bisa dihubungi melalui email; shohibul130@gmail.com
“Ojo kerep-kerep nuruti karep.”
Nah, maka dari itu bersyukur adalah jalan pintas untuk menetralisir nikmat. Allah telah menjanjikan bagi orang-orang yang bersyukur dalam firman-Nya.
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambahkan nikmat kepadamu.” (Q.S. Ibrahim: 7)
Terus bagaimana dengan orang-orang yang nggak mau bersyukur? Yaa.. Mau gimana lagi, Allah pun menjanjikan dalam al-Qur’an.
وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim: 7)
Dalam hal syukur adakalanya bersyukur dengan lisan, seperti halnya melafadzkan ‘alhamdulillah’. Ada pula bersyukur dengan perbuatan, misalnya bershodaqoh. Dan yang terakhir adalah syukur dengan hati yaitu dengan mengingat Dzat yang memberi nikmat.
Dan satu lagi, lawan dari syukur adalah rakus, teman!! Salah satu sifat yang dimiliki musuh Allah yaitu syaitan. Rakus adalah salah satu sifat asli manusia. Kalo kita angan-angan, hasrat manusia untuk memiliki itu tinggi. Ingin ini ingin itu, alah mbuh.
Rakus boleh tapi harus di imbangi dengan syukur. Karena kalau seorang insan kalo hanya rakus saja, maka ya bisa –bisa dia terjatuh dalam lubang kenistaan. Dlam sebuah syair karangan as-Syaikh Ahmad ad-Dardiriy dikatakan,
وكن على الائه شكورا وكن على بلا ئه صبورا
“Ketika ada sebuah nikmat, maka bersabarlah. Dan ketika ada cobaan yang mendatangimu (rakus) yang menimpamu, maka bersabarlah.”
Ketahuilah kawan!! Allah itu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Wallahu a'lamu...
Identitas Penulis
Shohibul Amin – Lahir di Purbalingga, 20 September 1999. Siswa di Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri. Penulis bisa dihubungi melalui email; shohibul130@gmail.com
“Ojo kerep-kerep nuruti karep.”


ConversionConversion EmoticonEmoticon