Semangat Baru Al Miftah

Manifestasi Cinta Dalam Membangun Ukhuwah Islamiyah

Cinta adalah kesempuranaan bagi seseorang. Seseorang yang tidak memiliki cinta, cacat mentalnya. Mencintai lawan jenis bukanlah aib, juga tidak di haramkan. Yang haram adalah buahnya cinta. Lalu melakukan hal yang diharamkan oleh Allah.


Manifestasi Cinta Dalam Membangun Ukhuwah Islamiyah


Nabi sangat menghargai cinta. Nabi marah kalau cinta itu di nodai. Makanya Nabi selalu menjembatani cinta, bagaimana cinta itu diarahkan pada perkara yang halal biar sempurna. Keindahan cinta itu puaaaanjang, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.

Cinta yang bener adalah cinta yang rasional; masuk akal. Jadi kalo cinta yang nggak masuk akal, itu cinta buta. Cinta itu bisa dicerna dengan akal. Biarpun nanti bisa saja orang yang sedang mencintai mengatakan, ‘Jerawat diwajahmu bagaikan bintang-bintang di langit’.

Tapi pada dasarnya cinta itu bisa dicerna oleh akal. Sehingga seseorang itu susah dan mungkin tidak bisa mencintai orang yang parasnya buruk, perilakunya buruk.

Misalkan, tau-tau ada seorang laki-laki yang ‘waduh’ baunya jarak satu kilo sudah kecium bau busuk, wajahnya ndak karuan, perilakunya jahat, suka nempeleng. Kira-kira bisa ndak mencintai? Tidak, karena akal yang sadar. Makanya kalo cintanya sudah nggak pake akal, cintanya kacau. Maka perlu dihadirkan pendidikan cinta supaya orang tak salah mencintai.

Cinta itu tidak serta merta ‘ujug-ujug’. Ada proses yang terkadang tidak kita sadari. Sehingga kita tiba-tiba sudah terperangkap dalam cinta. Ada proses, seperti kisah cintanya Qais kepada Layla, terpesonanya Zulikha kepada Yusuf.

***

Cinta adalah keindahan, seperti kisah cintanya Sayyidah Khadijah dengan Baginda Nabi Muhammad, begitu agungnya cinta Muhammad kepada Sayyidah Khadijah, meskipun sudah mendapatkan Siti Aisyah.

Biarpun saat itu Siti Khadijah sudah wafat, Siti Aisyah masih ada rasa cemburu. Sebab kalau Nabi Muhammad sudah menyebut-nyebut Siti Khadijah, wajahnya berbinar-binar, berseri-seri. Sehingga membuat Siti Aisyah merasa cemburu.

“Ya Rasulullah.. Mengapa masih kau sebut perempuan itu padahal sudah ada aku?”, kata Aisyah.

Bagaimana ucap Nabi, “Demi Allah, tidak ada yang bisa menggantikan Khadijah. Tidak ada yang bisa menggantikan Khadijah.”

Rasulullah begitu mesra.

***

Mencintai bukanlah aib, bukan pula celaka. Celaka itu, kalau kita duduk dengan orang yang tidak kita cinta.

Cinta itu terlepas dari urusan syahwat. Jangan dihubungkan, cinta itu bukan syahwat. Orang bisa melampiaskan syahwat tanpa cinta. Nah, yang jadi masalah disaat kita mencampur antara cinta dengan syahwat.

Kesampingkan dulu urusan syahwat. Syahwat tanpa cinta, bisa. Lihatlah, orang yang menjual diri itu, tanpa cinta mereka pun bisa syahwat.

Cinta itu istimewa, indah. Maka hendaknya cinta itu direncanakan. Siapa yang akan kita cintai? Sehingga tumbuhnya cinta itu tidak serta merta. Akan tetapi dimukaddimahi dengan kekaguman secara umum.

‘Oo.. Orang itu mengagumkan’ maksudnya ada sesuatu daya tarik. Setelah kekaguman secara umum lalu timbul kecenderungan.

Ada kecenderungan, itu belum cinta, masih cenderung. Kagum dulu, baru cenderung. Baru akal digunakan untuk mengambil keputusan.

‘Haruskah aku mencintai saat ini’
‘Kemudian setelah aku mencintai, kira-kira seperti apa kedepanku nanti, baik di dunia atau di akhirat’. Ini kalo mau berfikir.

Kalau kagum itu serta merta, ‘ujug-ujug’. Saat kita melihat ‘Aww’, nggak tau dia anaknya siapa, nggak tau rumahnya mana. Ini kagum secara umum, lalu ada kecenderungan. Tapi hendaknya setelah itu baru akal kita gunakan.

Kita lacak, siapa dia? anaknya siapa? dia secara akhlak seperti apa? pendidikannya dimana? berkumpulnya dengan siapa? dsb. Baru mengambil keputusan untuk mencintai.

Lalu bagaimana kriteria orang yang patut kita cinta? Orang yang kenal Allah, perilakunya lembut, baik, dsb. Sehingga kalau ketemu dengan seseorang, inilah yang bakal menyeleksi.

‘Oh, dia ini dekat dengan Allah nggak sih?’

‘Waduh, nggak shalat’
, sorry deh.

Seorang laki-laki pun harusnya demikian saat memilih seorang gadis. Jangan, ketemu di internet langsung seneng. Dikirim foto dua kali saja langsung klepek-klepek. Model apa ini?

Jadi ada proses. Setelah kita kagum, ada kecenderungan, baru setelah itu kita berfikir, baru kita memilih, menjatuhkan, ‘Aku mencintai dia’. Maknanya apa? Setelah sadar, kita mengetahui layak atau tidak. Baru setelah itu mengambil keputusan.

‘Bagaimana cinta ini agar bisa abadi’.

‘Aku mencintai dia’.


Lalu bagaimana agar cinta itu abadi. Abadi ini kan perlu pemahaman makna ‘Abadi’.

‘Aku ingin kisah cintaku panjang sampai di akhirat, maka melangkah pada pernikahan’.

Sehingga orang yang paham dengan rambu-rambu ini, susah melakukan keharaman, susah melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah.

Lalu bagaimana kita bisa memanifestasikan cinta itu sebagi Ukhuwah Islamiyah?

Al-Ghazali mengisahkan kisah cinta Qais dan Layla dengan syairnya.


أُقَبِّل  ذا الجِدارَ  وَذا الجِدارا
أَمُرُّ عَلى الدِيارِ  دِيارِ  لَيلى   
وَلَكِن حُبُّ مَن سَكَنَ الدِيارا
وَما حُبُّ الدِيارِ شَغَفنَ قَلبي 



Aku melewati rumah-rumah, rumah Layla. Aku ciumi tembok sini dan tembok sana. Bukanlah rumah itu yang membuatku cinta. Tetapi orang yang tinggal di dalamnya.


Maksudnya disini Qais menciumi tembok sini tembok sana, ia tidak hanya mencintai Layla saja. Tapi semuanya, keluarganya, tetangganya, teman-temannya, dan semua yang berkaitan dengan Layla.

Kalau cinta itu bermuara pada pernikahan, niscaya tidak hanya menyatukan dua orang yang saling mencintai. Melainkan menyatukan antarkeluarga, antarwilayah, antarbudaya, dsb.

Dengan demikian, persaudaran bisa kita bangun.

Wallahu a'lamu...


Previous
Next Post »