Ada sebuah adagium
bertutur, bahwa waktu lakasana pedang,
kala kau tak mampu menguasainya nisacaya ia akan memotongmu, ia pun merupakan
anugrah Tuhan guna memenuhi seluruh titahNya. Bahkan urusan waktu pun akan
dipertanyakan kelak di akhirat nanti terkait waktu, masa umur yang kita
pergunakan, sudahkah tepat penggunannya atau malah melempeng dari tuntunan.
Secara matematika geografis, rentang waktu diantara
matahari terbit sampai tergelincir dari titik zenitnya berkisar 6 jam estimasi
waktu normal bagi daerah yang berdekatan dengan garis katulistiwa, dan kadang
akan lebih lama atau lebih sebentar dari 6 jam bagi daerah yang mendekati
bagian kutub bumi, baik kutub utara atau selatan. Untuk Indonesia sendiri yang
dilalui oleh garis tersebut, niscaya setiap orang yang tinggal di negara
tersebut pasti medapati waktu 6 jam tersebut. Kemudian
bagaimana kita mengisi waktu tersebut?
Waktu yang tersisa setelah melakukan sholat tersebut
hendaknya diisi dengan sesuatu yang bermanafaat secara personal atau untuk
khalayak umum. Wacana imam ghozali dalam karyanya Kitab Bidayah al-Hidayah memamparkan
empat hal yang harus mengisi waktu, yaitu:
Kondisi pertama; yaitu hendaknya engaku mepergunakannya untuk mencari ilmu yang
bermanfaat bagi agama bukan pengetahuan berlebih yang ditekuni banyak orang
bahkan mereka menamainya ilmu. Adapun ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang
bisa menambah rasa takutmu kepada Allah, perhatianmu terhadap cela aibmu, dan
ma’rifatmu dalam beribadah kepada Allah, mengurangi kecintaanmu terhadap dunia
dan menambah rasa cintamu kepada akhirat, membuka penglihatanmu atas
bahaya-bahaya dari amalmu sehingga engkau pun kelak berhati-hati dalam
bertindak, dapat menamapakan tipu daya dan makar syaiton, dan cara syaiton
dalam menipu ulama jelek sehingga memalingkan mereka menuju murka Allah karena
mereka memakan (menukar) dunia dengan agama, menjadikan ilmu sebagai media dan
saran dalam memperoleh harta pemerintahan, dan memakan harta wakaf, harta anak
yatim dan harta orang miskin. Mereka pula mengerahkan semangat mereka
sepanjang hari dalam mencari pangkat dan kedudukan di hati manusia lain yang
cenderung mengarahkan kepada pamer ria, permusuhan, debat dan
sombong-sombongan. Wacana tentang ilmu yang bermanfaat ini telah terkumpul
dalam kitab Ihya Ulumiddin.
Jika engkau temasuk orang yang punya
potensi maka berusahalah merengkuh ilmu, mengamalkannya dan mengajarkannya,
serta ajaklah (orang lain) turut serta (mencari) dalam ilmu. Barang siapa yang
mengetahui hal tersebut, mengamalkannya serta mengajarkannya kemudian mengajak orang lain maka ia akan dipanggil
sebagai makhluk agung di kerajan langit dengat kesakian nabi Isa AS. Bila telah
selesai segala yang dituturkan dimuka dan perbaikan diri zohir dan batin namun
masih tersisa waktu-waktumu, maka tak apalah kau gunakan waktumu untuk menekuni ilmu fiqih mazhabi agar kamu tahu berbagai cabangan dan kelangkaan
dalam urusan hukum ibadah,
tahu pula cara menengahi perselisihan antara sesama ketika mereka dihadapkan
dalam gejolak hawa nafsu. Kesibukan ilmu fiqih mazhab ini direalisasikan
setelah kepentingan berbagai fardu kifayah telah dilaksanakan.
Bila hawa nafsumu mengajakmu untuk meninggalkan wirid dan zikir
yang telah kami sebutkan karena menganggap remeh maka ketahuilah sesungguhnya
syaiton terlaknat telah memasukan secara samar penyakit yang sulit obatnya di
dalam hatimu, yaitu cinta harta dan tahta, makanya janganlah terperdaya oleh
syaiton sehingga engkau ditertawakan, dicemooh olehnya dan dirusak pula. Bila dirimu diuji suatu saat dalam wirid-wirid dan
ibadah bahkan mengakibatakan malas tetapi bukan karena mengganggap remeh ibadah
tersebut. Namun, tampak kecintaamu dalam menghasikan ilmu yang bermanfaat
dengan niat hanya mencari ridho Allah dan ganjaran akhirat maka niscaya hal
tersebut lebih utama ketimbang kesunahan-kesunahan ibadah dengan syarat niat
yang timbul itu benar. Apabila niatmu belum benar maka usahamu dalam
menghasilkan ilmu dengan meninggalkan ibadah sunah merupakan tempat tipu
dayanya orang-orang bodoh dan tempat tergelincirnya kaki para lelaki sejati
(ulama).
Kondisi kedua, yaitu keadaan dimana kau tak kuasa dalam menghasilkan ilmu agama
namun enggkah sibuk dengan beragam kegiatan ibadah seperti zikir, membaca
tasbih dan quran, serta sholat. Kesibukan
ini bagian dari derajat ahli ibadah dan aktifitas orang sholeh serta akan
menjadi pula bagian dari orang-orang yang beruntung.
Kondisi ketiga, yaitu hendaknya engkau sibuk dengan sesuatu yang mengantarkan
kebaikan kepada umat muslim dan menuai bahagia dalam hati setiap mumin, atau
mudah berlaku baik kepada orang-orang sholeh seperti mengabdi kepada ahli
fiqih, sufi dan agamawan pula ikut turut serta dalam kesibukan mereka. Berusaha untuk memberi makan para fakir miskin, dan
sibuk dalam menjenguk orang sakit atau ikut mengiring pemakaman jenazah. Ibadah
social tersebut lebih utama ketimbang ibadah sunah karena dalam ibadah social
terdapat kemanfaatan bagi muslim lainnya.
Kondisi keempat, yaitu ketika kau tak kuasa dalam tiga kondisi dimuka maka
sibukanlah diri dengan bekerja dalam memenuhi kebutuhan dirimu dan keluargamu. Sungguh engkau dapat kedudukan ashbul yamin dengan
kondisi keempat ini dengan dibarengi upaya dalam memelihara keamanan muslim
lain, yaitu mereka merasa aman dari lisan dan tanganmu, dan pula tidak merusak
agamamu dengan maksiat sekalipun engkau belum meninggkat menuju maqom
orang-orang sabiqin. Kesibukan bekerja merupakan derajat terendah dalam maqom
agama dan kesibukan lain setelah maqom ini termasuk tempat bersenang-senangnya
syaiton yaitu kesibukanmu dalam menghancurkan agama, melukai para hamba Allah.
Nauzubillah. Ini adalah kedudukan para perusak maka janganlah kau berposisi
dengan kedudukan ini.


ConversionConversion EmoticonEmoticon