Semangat Baru Al Miftah

7 Keutamaan Al-Qur'an

Membaca al-Quran merupakan aktifitas yang utama, yang mempunyai berbagai keistimewaan dan kelebihan dibandingkan dengan membaca bacaan yang lain...


Allah berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”[1]
Banyak sekali keistimewaan bagi orang yang ingin menyibukkan dirinya untuk membaca al-Quran. Banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan membaca al-Quran.

1. Menjadi manusia terbaik
Orang yang membaca al-Quran adalah manusia yang terbaik dan manusia yang paling utama. Tidak ada manusia diatas bumi ini yang lebih baik dari pada orang yang mau belajar dan mengajarkan al-Quran. Dengan demikian profesi pengajar al-Quran jika dimasukkan sebagai profesi adalah profesi yang terbaik di antara sekian banyak profesi.

Rasulullah bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik diantara kamu sekalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.”[2]
Hadits ini diriwayatkan Imam Abu Dawud Hadits No. 1452 dalam bab Pahala Membaca Al-Qur’an dari jalur sanad Utsman bin Affan.

Al-Qur’an adalah paling utamanya kitab yang diturunkan, begitu juga Rasul yang dituruni juga paling utamanya utusan, umatnya juga lebih utama-utamanya umat. Orang yang mementingkan al-Qur’an juga paling utamanya manusia. Para penghafalnya juga paling mulianya manusia dan guru yang mengajarkan juga paling utamanya manusia.[3]

2. Mendapat kenikmatan tersendiri
Membaca al-Quran adalah kenikmatan yang luar biasa. Seseorang yang sudah merasakan kenikmatan membacanya tidak akan bosan sepanjang malam dan siang. Bagaikan nikmat harta kekayaan di tangan orang saleh adalah merupakan kenikmatan yang besar karena dibelanjakan ke jalan yang benar dan tercapai apa yang diinginkan. Oleh karena itu, seseorang dibolehkan iri pada dua kenikmatan tersebut.

Rasulullah bersabda,
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا، فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ
“Tiada perkara yang semestinya harus diidamkan bisanya melainkan hanya dua perkara; seorang yang diberi oleh Allah pandai al-Qur’an, kemudian bias menekuninya sepanjang hari dan malam; seorang yang diberi Allah kekayaan harta kemudian selalu menggunakannya ke jalan yang semestinya di sepanjang siang dan malam.”[4]
Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim Hadits No. 815 dalam bab Keutamaan Menekuni Al-Qur’an dari jalur sanad Abu Salim.

3. Derajat yang tinggi
Seorang mukmin yang membaca al-Quran dan mengamalkannya adalah mukmin sejati harum lahir batin, harum aromanya dan enak rasanya bagaikan buah jeruk dan sesamanya.

Rasulullah bersabda,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
“Perumpamaan mukmin yang membaca al-Qur’an adalah bagaikan buah jeruk; baunya semerbak dan rasanya lezat. Perumpamaan mukmin yang tidak membaca al-Qur’an adalah bagaikan buah kurma; rasanya enak tapi tidak berbau. Perumpamaan munafik yang membaca al-Qur’an adalah bagaikan Raihanah; baunya harum tapi rasanya pahit. Perumpamaan munafik yang tidak membaca al-Qur’an adalah bagaikan Handhalah; tidak berbau dan rasanya pahit.”[5]
Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim Hadits No. 797 dalam bab Keutamaan Penghafal Al-Qur’an dari jalur sanad Abu Musa al-Asy’ari.

4. Berkumpul bersama malaikat
Orang membaca al-Quran dengan fashih dan mengamalkannya, akan bersama dengan para malaikat yang mulia derjatnya.
Rasulullah bersabda,
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Orang yang pandai membaca Al-Qur`an, dia bersama para malaikat yang mulia dan patuh. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur`an dengan terbata-bata dan berat melafalkannya, maka dia mendapat dua pahala.”[6]
Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim Hadits No. 798 dalam bab Keutamaan Orang Pandai Membaca Al-Qur’an dari jalur sanad A’isyah.

5. Mendapatkan syafa’at al-Quran
Al-Quran akan memberi syafaat bagi seseorang yang membacanya dengan benar dan baik serta memperhatikan adab-adabnya. Di antaranya merenungkan makna-maknanya dan mengamalkannya.

Pada hari kiamat nanti, semua manusia tertimpa kebingungan dan keresahan yang luar biasa hingga menyusahkan dirinya, inilah saat manusia membutuhkan perlindungan. Namun tidak ada sesuatu atau seorangpun yang dapat memberi pertolongan.

Sehubungan dengan adanya peristiwa hari kiamat, Allah memberikan syafaat kepada hambanya dengan bacaan al-Qur’an, Rasulullah saw bersabda,
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya al-Qur’an esok hari kiamat akan datang memberi syafaat bagi orang-orang yang mempunyai al-Qur’an (para pembacanya).”[7]
Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim Hadits No. 804 dalam bab Keutamaan al-Qur’an dari jalur sanad Abu Umamah.

Al-Qur’an juga dapat melunakkan hati dan meneranginya untuk mudah dimasuki petunjuk atau peringatan, mudah sadar dan insaf. Lain halnya kalau hatinya keras, maka dapat menentang dan membantah petunjuk-Nya.[8]

6. Kebaikan membaca al-Quran
Seseorang yang membaca al-Quran mendapat pahala yang berlipat ganda satu huruf diberi pahala sepuluh kebaikan. Jika seseorang khatam al-Quran yang hurufnya 1.025.000 banyak kebaikan yang diperolehnya, berarti mengalikan 10; yakni sebanyak 10.250.000 kebaikan.
Rasulullah bersabda,
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ 
“Siapa yang membaca satu huruf dari al-Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.”[9]
Hadits diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi Hadits No. 2910 dalam bab Pahala Membaca Ayat al-Qur’an dari jalur sanad Ibnu Mas’ud.

7. Keberkahan al-Quran
Orang yang membaca al-Quran baik dengan hafalan maupun dengan melihat mushaf akan membawa kebaikan atau keberkahan dalam hidupnya bagaikan sebuah rumah yang dihuni oleh pemiliknya dan tersedia segala perabotan dan peralatan yang diperlukan. Sebaliknya orang yang tidak terdapat al-Quran dalam hatinya bagaikan rumah yang kosong tidak berpenghuni dan tanpa perabotan. Demikianlah hati orang yang tidak membaca Al-Quran, akan terjadi kekosongan jiwa tidak ada dzikir kepada Allah dan kotor berdebu hatinya, akan membuat orang sesat dari jalan yang lurus.
Rasulullah saw bersabda,
إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ
“Sesungguhnya seseorang yang di dalam hatinya tiada sesuatu dari al-Qur’an adalah bagaikan rumah yang rusak.”[10]
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi Hadits No. 3349 dalam bab Keutamaan Membaca al-Qur’an jalur sanad dari Ibnu Abbas dengan sanad Hasan.

Maksudnya ibarat rumah yang tiada penghuninya, maka penghuninya adalah setan. Begitu juga hati seseorang jika tidak pernah dibacakan al-Qur’an dam tidak pernah menerima petunjuk dari al-Qur’an.
Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda,
إِنَّ الْقُلُوبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ فَقِيْلَ يَارَسُولَ اللَّهِ وَمَا جِلاؤُهَا؟ قَالَ تِلاوَةُ الْقُرْآنِ وَذِكْرُ الْمَوْتِ
“Hati seseorang itu bisa berkarat mengotor sebagaimana berkaratnya besi. Kemudian diantara sahabat ada yang bertanya; Apakah alat pembersihnya ya Rasulullah? Rasulullah bersabda; yaitu membaca al-Qur’an dan ingat akan mati.”[11]
Hadits ini diriwayatkan Imam al-Baihaqi dari Ibnu Umar dengan sanad Dha’if. Maksud hadits ini adalah untuk selalu membersihkan hatinya dengan bacaan dan petunjuk dari al-Qur’an dan selalu mengingat akan kematian, supaya hatinya bersih dan terang.[12]

Rasulullah saw bersabda,
اِقْرَءُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّ اللهَ تعالى لاَ يُعَذِّبُ قَلْباً وَعَى الْقُرْآنَ
“Bacalah al-Qur’an, sungguh Allah tidak akan menyiksa pada hati yang berisi al-Qur’an.”[13]
Hadits ini diriwayatkan Imam ad-Darimi dari Ibnu Mas’ud. Dalam hadits ini, Allah memberikan jaminan bebas dari siksaan bagi orang-orang yang membaca al-Qur’an.[14]

Referensi

[1] QS. Al-Anfal: 2.
[2] Imam Abu Dawud, Sunan Abu Dawud Vol. II. (Beirut: Al-Maktabah Al-Ashriyyah, t.t.), 70.
[3] Maftuh, Al-Qur’an Hidangan Segar…, 41
[4] Imam Muslim, Shahih Muslim Vol. I. (Beirut: Dar al-Ihya’ at-Turats al-Arabi, t.t. ), 558.
[5] Imam Muslim, Shahih Muslim Vol. I. (Beirut: Dar al-Ihya’ at-Turats al-Arabi, t.t. ), 549.
[6] Imam Muslim, Shahih Muslim Vol. I…, 549.
[7] Imam Muslim, Shahih Muslim Vol. I…, 553.
[8] Maftuh Bastul Birri, Al-Qur’an Hidangan Segar. (Kediri: Madrasah Murottil al-Qur’an al-Karim, 2008), 15.
[9] Imam at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi Vol. V. (Beirut: Dar al-Gharb al-Islamiy, 1998), 25
[10] Abu Muhammad ad-Darimi, Sunan ad-Darimi. (Saudi Arabia; Dar al-Mughniy, 2000), 2083.
[11] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din Vol. 4. (Beirut: Dar al-Ma’rifat, t.t.), 273
[12] Maftuh, Al-Qur’an Hidangan Segar…, 16.
[13] Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi Hamalati al-Qur’an. (Beirut: Dar Ibnu Hazm, 1994), 20
[14] Maftuh, Al-Qur’an Hidangan Segar…, 16.
Previous
Next Post »